Kamis, 27 Juni 2013 0 komentar

we are bro

Sebuah percakapan absurd

Frans : oh sekarang nama gebetannya b toh
nathan :  opo cuk, kepencet cuk
frans : koe sudah punya wadon ?
nathan : belom
frans : kapan dapetnya? Hahaha
nathan : bukan urusanmu
frans : masih jutek aje lu, udah gede juga
nathan : hahaha
frans : eh tgl 22 aku gak bisa dateng karena kerja, malamnya kita berjumpa yah
nathan : ya

Esoknya di sore hari
nathan : aku tanggal 22 itu langsung pulang
frans : sekarang sudah dijakarta?
nathan : udah
frans : kamis malam mau kemana? Atau jumat malam mau kemana?
nathan : gak tau ituu, pergi ae wes, asal jok mbe oma
frans : jok mbe oma apa artinya?
nathan : jangan pergi sama oma
frans : iya aku sama kamu ae perginya
nathan : yo

Esoknya lagi
frans : de nanti jam 7 malam bisa gak ke TA atau CP?
nathan : gak tauu
frans : kamu nginep di hotel atau dirumah saudaramu?
nathan : saudara, tapi sekarang lagi nginep dirumah temanku
frans : yowes kalau bisa usahain nanti malam
nathan : ya

Selang beberapa jam sehabis maghrib
frans : dimana?
nathan : dirumah e temanku
frans : gak jadi nanti ?
nathan : gk tauuu, aku mau ketemu ray masihan
frans : yaudah gpp kamu juga udah lama gak ketemu sama ray kan, tapi aku bisanya malam ini ketemu kamu e, jumat sama sabtu gak bisa soalnya karena pulang jam 10 malam.
nathan : Ooooo

Malamnya 23.40
nathan : besok ae isa?
frans :nanti aku kabarin ya, kalau nanti pulang kantor cepat tak kabari kamu
nathan : ya

Jumat , 21 juni 2013 diwaktu sore
frans : nanti jam berapa? Di TA apa CP?
nathan : gk tau, isa e jam berapa
frans : lah piye gak tau bisa nya jam berapa
nathan : Ooooo
frans : kamu bisanya jam brp? Jam 7 malam bisa?
nathan : duuh gatau wess
frans : yowes!!

Saat itu harapan seperti hilang, gua tidak akan bertemu dengan dia saat dia dijakarta, namun selang 2 jam kemudian di waktu maghrib harapan kembali menjemput.

nathan : aku gak ngerti nyanyi solo ku nanti
frans : memang kamu disuruh nyanyi apa sama panitianya?
nathan : gak tau, aku pikir acara e nyantaii, Cuma ketemu gito tok.
frans : sekarang kamu dimana?
nathan : dirumah
frans : ayolah ke CP atau TA sekarang!
nathan : kak frans dimana?
frans : aku dikantor dekat senayan
nathan : Lahh
frans : ini udh pulang kerja, Alhamdulillah hari ini bisa pulang cepet
nathan : okeee,di tunggu
frans : sip, nanti aku kabari kalau udah nyampe TA atau CP
nathan : jemputin aku kesini aee
frans : kemana?
nathan : rumah saudaraku ini
frans : rumah saudaramu yang dulu aku pernah kesana?
nathan : iya yg dulu
frans : waduh, aku rada2 lupa dimananya, alamat lengkapnya tau gak?, yaudah nanti aku samnil tanya2.
nathan : alamatnya blablablalalala, ok

Beberapa jam kemudian jam 19.00 wib
nathan : jemputen aku
frans : iyeh ini udah di rcti
nathan : ok
frans : ada helm gak? Pinjem helm saudaramu
nathan : gak, gak ada motor disini
frans : oke oke

Gua sempatkan untuk membeli helm terlebih dahulu ditepi jalan, helm murah seharga Rp. 50.000 berhasil gua miliki, perjalanan berlanjut, sesampainya disebuah gang gua bertanya sama tukang ojek yanag disitu. “pak tau alamat ini ….”, “tau mas”, “bisa antarkan saya kealamat ini”, bisa mas, ikutin motor saya aja dari belakang”, beberapa menit kemudian.

frans : aku sudah nyampe de
nathan : iya bentar.

Pintu gerbang rumah besar itu terbuka, suara gembok kunci yang terbentur pagar besi membuat berisik telinga, suara langkah langkah kaki terdengar, bayangan hitam dari cahaya lampu malam itu semakin mendekat. “mari pak saya duluan, artisnya sudah datang”, sapa gua kepada pak supir yang ada disitu.
Tanpa salaman, tanpa toss dia berkata “mana motormu, sini aku yang bawa”, “udah bisa naik motor belum? Kagak ah ngeri”, “dimalang aku sudah bisa bawa motor”. Dia langsung naik dan menyalahkan stater. Motor itu berjalan beberapa meter dari tempat awalnya dan berhenti. “udah sini aku aja yang bawa belom punya sim aje, pake nih helm” ia memakainya dan motor pun pergi meninggalkan kawasan tersebut.

Didalam perjalanan entah apa yang kami omongkan semua berasa berjalan begitu saja, “mau kemana kita CP atau TA?”, “TA ajalah” katanya. “markir dimana?” kata Nathan, “di tempat parkir motorlah”, “bodoh, aku juga ngerti”. Gua tertawa. Sip sudah sampai, kami berjalan dari tempat parkir motor hingga memasuki pintu mall taman anggrek. “ada artis nih kesini”, celetuknya. Gua hanya tertawa. Melewati pintu mall yang berputar langkah kaki kami entah ingin menuju kemana, anak escalator kami naiki, berputar dari satu lantai kelantai lain,”kita ini mau kemana” sambil menekan nada pembicaraan, “udah nonton man of steel? Dimalang belum ada kan”, “belum, tapi sudah ada dimalang”, “nonton itu aja yo”. “gak ah aku mau nonton dimalang aja”, tutupnya. Kami masih berjalan menyelusuri mall ini sambil berbicara yang aneh-aneh hingga gak jelas, itu sudah jadi tradisi jika kami bertemu.

“kamu sudah makan?”, “belum”, “yaudah makan aja nyok, terserah kamu mau makan dimana, aku ikut aja”, “kita makan hachi-hachi aja” jelas Nathan. Sesampainya didepan tempat makan tersebut ia berbalik arah “jancuk rame, cari tempat lain aja”, katanya. Setelah berputar-berputar Nathan memutuskan untuk makan di pizza hut “wes disini aja, gak rame”, “siap”, kata gua.

Sambil menunggu makanan yang kami pesan, Nathan bercerita banyak tentang dirinya yang berada dijakarta, dari ketemu ray, temannya, hingga masalah pribadi yang hanya gua dan Nathan yang tau. Malam itu Nathan berubah jadi anak pintar berbicara dan mematikan omongan setiap apa yang gua berikan ke dia, gua hanya menggeleng-gelengkan kepala. Intinya perbincangan kami saat itu ialah sebuah kata pilihan. Pilihan untuk menjalani hidup, pilihan untuk melanjutkan hidup, sebuah pilihan yang bisa berakibat fatal jika salah untuk melangkah. “ya semua itu pilihan cuk”,kata Nathan, “sebuah pilihan yang ga boleh salah ya de”, gua menambahkan. Akhirnya makanan datang, Nathan pun nambah untuk memesan makanannya. Nathan minta diajari bahasa anak Jakarta, dari men, coy, blay, bor, brur dan kata2 yang lainnya. Dia pun ngajarin gua dengan bahasa malang yang sedikit sulit untuk diucapkan dengan arti yang agak sedikit fulgar. Hahahaha. “pesen aja kafrans nanti aku yang bayar” dia pun mengeluarkan dompetnya dari saku celana belakang dan menunjukan isi didalamya, “tuh banyak”, katanya. Gua hanya tertawa dan berkata, mantab.

Ada kejadian lucu pada saat kami ingin memintal bill, Nathan segera mengeluarkan dompetnya kembali dan mengasihkannya ke gua, “pake uang ku saja”, “halah gak usah, tenang aku sudah kerja, selow”, gua beranjak dari tempat duduk itu dan segera menuju kasir. “aku juga udah kerja, udah bisa dapet duit sendiri”, celetuknya, “udeh simpen aje duitnya”, “bodoh”, candanya. Setelah gua membayar bill kami meninggalkan tempat makan ini dan berjalan kembali menyelusuri mall taman anggrek kembali, “aku mau ketempat artis yang ada syuting-syuting atau ada artisnya dimana ya?” kata Nathan. “dimana ya aku jg gak tau, ada sih di senayan acara jackloth ada artis-artisnya, tapi jauh nti kemaleman baliknya”. “tapi aku mau ketempat syuting, aku kangen suasana kaya gitu-gitu”, Nathan berkata. ‘”yaudah nonton x-factor aja yuk di rcti” kata gua, “udah abis bodoh acaranya”, kata Nathan. Hahahahah gua tertawa. “perutku sudah kotak-kotak loh”, nathan sambil memegang perutnya, “aku juga udah kotak-kotak tapi hanya 1 kotak besar”. Bls gua. Kami tertawa kembali.

Kami berjalan keluar untuk melakukan operasi kerahasiaan Negara dan berbangsa, halah. Dan sampailah kami ditempat rahasia, disana kami menggila, “potoin aku”, Nathan mengambil ancang-ancang untuk difoto. “sip udah”, “mana? Jelekkk, ulang lagi potonya “harus begini harus begitu” ”,ujarnya. “udeh bos, cakep nih potonye”, gua terpaksa berbohong agar cepat selesai, haaaa, Nathan pun menyetujuinya. “udah yuk cari supermarket aku mau cari minum, haus”, jelas Nathan, “disini emang gak ada foodhall atau apalah”, gua menyambung perkataannya, “dimana ya yang ada alfa atau indomaret didaerah sini adanya dibelakang GT”, kata gua, “kita ke GT aja, boleh e sama satpam?”, “boleh, bilang aja mau ketemu siapa kek disana, gampanglah, mau ke GT?”, “yaudah ayo”, Nathan bersemangat.

Dari mall taman anggrek menuju GrandTropic tidak perlu memakan waktu yang banyak hanya beberapa menit saja motor yang kami naiki sudah rapih terparkir di GT. “kapan terakhir kali kesini cuk?” Tanya gua, “gak tau”, sambil tersenyum dan matanya melihat gedung tinggi tersebut dari parkiran motor, seakan Nathan melihat segerombolan kenangan beberapa tahun lalu ditempat ini, ia mencoba menyusun kepingan-kepingan puzzle kenangan itu. Nathan berjalan didepan terlebih dahulu menuju lobby GT, gua mengikutinya dari belakang, Nathan menuju kolam pasir air yang berada dibelakang “kayanya dulu gak ada airnya ya de nih kolam” Tanya gua. “ada cuk dari dulu, haduh”, jawab Nathan. Nathan memutuskan untuk duduk didikursi dekat serambi agak ke kanan yang ada mejanya. Disini kami kembali opereasi kerahasiaan Negara dan berbangsa. Kami menggila kembali disini. “aku ditawari masuk management artis sama kak tias, tapi aku gak mau”, nathan bercerita, “ambil aje cuk biar bisa eksis lagi”, “emoh, aku mau beli minum dulu”, nathan berjalan menuju supermarket GT selang beberapa menit kemudia, agak lama, entah apa yang dilakukan dia disupermarket itu, nathan kembali “wih “menggila” mulu ka adit”, katanya. Kami kembali berbincang-bincang. Tidak terasa waktu sudah pukul 22.30 malam. “udah ayok kita pulang”, kata nathan, “ayok udah malam juga besok kesiangan lagi, aku nanti yang disalahin oma”, gua sambil tertawa. Kami meninggalkan tempat itu, tp nathan tidak langsung kea rah tempat parkir motor ia kembali lagi masuk ke supermarket, gua menunggu didepan, ia membeli sebungkus kacang dan coklat top. “aku makan kacang dulu”, sambil berjalan menuju lobby tengah tempat biasa orang-orang menunggu jemputan mobil. Kami berbincang kembali tentang seorang perempuan “cakep gak dia?”, “lumayan cakep”, jawab gua. Nathan terdiam sambil melanjutkan memakan kacang. “abisin nih kacangnya, nih sama topnya juga”, kata nathan, gua langsung memakan kacang dan top yang dibelikan dia saat itu. Kamipun memutuskan untuk pulang. Ditempat parkir “bilang panitia untuk besok, aku gak tau nyanyi apa buat besok”, tutupnya.

Ditengah perjalanan, malam itu susansa kota Jakarta masih macet, nathan geram dengan kemacetan Jakarta, “jan**k Jakarta malam masih aja macet”, tuturnya. Akhirnya kami sampai didepan gerbang rumah saudara nathan, ia turun dari motor dan memberikan helm yang ia pakai ke gua, ia berjalan menuju gerbang, gua turun untuk mengantarnya sampai depan gerbang, ting nong, nathan memencet bel rumah, tak lama kemudia asistent rumah tangga membuka kunci pagar, “goodluck de untuk besok MNG nya”, “iya”, singkat jawabnya ia masuk ke dalam dan gua kembali menaiki motor dan bersiap pulang kerumah. Hari itu kesedihan menembak suasana karena besok kerja gua gak bisa ikut MNG nathan, terakhir hari itu gua bertemu dengan nathan.perpisahan malam itu tanpa tosan, tanpa salaman, seakan kami tidak mau adanaya perpisahan.

Sabtu 22 juni 2013, pukul 07.00

Nathan : aku nyanyi lagu opo nantii
Frans : wanted!
Nathan : gak apal
Frans : yaudah lagu yang kamu apal aja
Nathan : gak ada yang apal
Frans : zzzzzzz
Nathan : ka frans nanti datang kan?
Frans : aku kerja de, kan kemarin udah gua bilang
Nathan : bodoh, izinlah dari kantor, bilang ada acara

Gua gak membalasnya lagi karena gua bingung mau bls apa, gak tega untuk menolaknya. Jam 09.00 nathan kembali menanyakan

Nathan : entar datang kaga?

Lebih baik gua gak membalasnya kembali.

Waktu dihari sabtu sangat cepat berlalu bagai angin yang tak terlihat berlari namun dapat dirasakan oleh naluri. Pekerjaan tak berkonsentrasi karena menuju pada satu lokasi di tmii.

Pada suatu sore hari masih di hari sabtu

Frans : hati2 bor dijalan, kapan2 kita ngeflay lagi yaks haha
Nathan : yoi blay.

Jumat, 05 April 2013 0 komentar

... Mereka (saya), meminta maaf

Biarkan jari-jari ini mengutuk pikirannya sendiri.
saya pamit dari manusia berlesung pipi, bukannya menyerah namun hanya menyadarkan jiwa ini sudah tidak ada yang perlu lagi untuk diselami. saya tidak ingin semakin tenggelam karena tenggelam kedasar lautan teori kesalahan itu amat sangat menyakitkan seperti ada algojo yang berusaha memisahkan kulit dari dagingnya, perlahan tapi kesakitan.
saya menamainya bukan jatuh cinta tetapi penasaran rasa dan sekarang penasaran rasa itu sudah berganti wujud menjadi keikhlasan rasa yang terbungkus kelemahan.

Saya pamit dari sorotan mata itu, terakhir jumpa tatapannya memang beda, dia melihat dengan mata yang tajam dari samping tubuh besar ini setelah itu melihat dengan syahdunya kearah mata ini dari jarak beberapa meter. ya itu ucapan terakhirnya untuk saya, ucapan perpisahan dan sekarang saya siap untuk mengubur sorotan mata itu, mata yang dimiliki oleh manusia cerdas.

Hembusan angin mengantarkan bisikan kerinduan namun segera saya tepis dengan tangan kekosongan, namun anginnya masih mampu menerjang sehingga tubuh ini masih bisa merasakan. para peri daun sangat lincah menari tanpa gerakan tak beraturan namun saya masih bisa menikmati tarian peri-peri daun tersebut, indah. anginlah yang membuat para peri daun menari walau tanpa suara dan irama, tanpa angin daun-daun itu tidak dapat bergoyang, mereka akan diam seperti tak punya nyawa, saat ini saya seperti daun tak dapat bergerak tanpa dukungan sang angin.

Suatu ketika alam akan pamit dengan semesta, alam merasa tak ada dirinya tidak membuat semesta berhenti berputar pada porosnya. alam harus yakin dengan putusannya itu, karena luas nya alam tidak ditumbuhi warna hijau namun warna hitam pekat yang menghiasi. semesta selamat, selamat untuk apa?, untuk merayakan hari paskah, terimakasih alam.

Hanya itu yang teringat di memori, ucapan terimakasih, tidak ada balasan basa-basi seperti anak panah yang dilepas kelingkaran kecil yang berada dipapan target. boom tepat sasaran. bagaimana rasanya jika anak kera dicuekin induknya atau penikmat kopi disuguhkan jus durian. itu yang saya rasakan. kini saya melepas semua memori-memori itu dengan satu jalan yang harus ditapaki dengan sebuah landasan kenekatan, saya harus menghapus hembusan angin itu, saya harus menangkap anak panah itu, saya mesti mencari induk baru untuk anak kera tersebut dan saya harus minum jus duren walau saya tidak suka. semua hanya demi untuk menghilangkan jumat, sabtu, senin dan selasa dalam kalender jiwa saya.

Saya mau minta maaf atas semua persepsi yang ditorehkan dalam lembaran kertas putih. seharusnya kertas itu tergambarkan warna-warna pertemanan yang mungkin sampai saat dunia gelap saya masih bisa berkawan, namun kertas itu saya torehkan tinta-tinta hitam yang tak terbentuk pada akhirnya yang membuat kertas itu marah, kesal dan tak tahu harus seperti apa dan klimaksnya sobek dan menghilang disapu angin kemurkaan. saya menyesal

Kini sang angin sudah tidak bisa dirasakan hawanya, sang kera sudah menemukan induk barunya, sang penikmat kopi perlahan sudah terbiasa dengan rasa jus duren, dan saya siap untuk menutup puluhan kenangan dengan kaleng karatan yang karatnya mampu menambah sakit luka yang menganga agar semakin sakit lukanya maka semakin tak terasa sakitnya.Namun jika diberikan kesempatan sekali lagi tidak akan saya hancurkan seperti saat ini, tapi sayang biasanya kesempatan itu tidak akan datang dua kali, seperti 1 banding 1000 atau sama saja mengharapkan melihat warna pelangi menjadi 2 warna saja hitam dan putih.

Setidaknya saya sudah menunjukkan diri ini, secara gambling saya memuntahkan semua yang saya rasakan kesemesta setelah mengenalnya, saya berani tidak hanya diam karena saya tidak mau menjadi pecundang yang berjubah dosa, karena sebenarnya mempunyai rasa ini saja sudah terpanggang amarah tuhan. sedangkan semesta hanya diam, mundur, dan setelah itu berlari menghilang mencari aman walau sebenarnya saya tahu semesta murka dengan simbol-simbol yang ditunjukkan kepadanya.

Saya berdoa agar hamba Tuhan yang saya kagumi menjadi sosok yang saat ini menempel pada dirinya, harus sukses, mungkin masih ingat tapi jika tidak ingat juga tidak apa-apa, saya pernah bilang lu cocoknya jadi wartawan jangan kerja yang lain dan terbukti, you got it mafreng!

Ini bukan mengenai melepaskan sesuatu yang kita yakini hanya menerbangkan hal yang tidak benar untuk didekati, biarkan ia melebarkan sayap-sayap kebenarannya dan saya tertunduk dan tertusuk dilembah kebisingan suara hati. 

Saya pamit untuk sejenak rehat dari kehidupan saya sendiri hanya untuk menyembuhkan jiwa ini yang selama mengenal nya membuat rusak komponen rasa secara keseluruhan. 

pernah baca suatu kutipan dari twitter tulisannya seperti ini, "everything happens for reasons, but some reasons are not for told, and heart hides what we cant say but eyes say what we try to hide"

Terimakasih untuk matanya.






Kamis, 21 Februari 2013 0 komentar

2 HARI "Alvin & Shilla"



7 hari dalam kalender hampir sudah aku bertemu dengannya. Setidaknya dari 7 hari sudah 4 hari aku melihat mata tajamnya, senyumnya dan suaranya. Jumat, sabtu dan yang terbaru ini senin dan selasa. Nama-nama hari itu sudah terpaten dipikiran ku atas semua kejadian yang telah terjadi bersamanya. Hari-hari itu mungkin tidak special untuk dirinya namun berbeda dengan ku, aku seperti orang yang kehilangan akal sehat yang selalu mengingat hari-hari itu disetiap kapanpun, mungkin jika ditanya ada berapa hari dalam seminggu aku akan menjawab ada 4 yaitu senin, selasa, jumat dan sabtu. Aku juga tidak mengerti mengapa tuhan masih berkenan untuk mempertemukan aku dengannya, yang pasti Tuhan mengetahui apa yang sedang terjadi disegala detail aspek kehidupan hambanya.
                                                                                                              
Hari itu, senin kami kembali dipertemukan, dipertemukan kembali dalam situasi mencari pekerjaan, ya kami ada psikotest kerja. Sebenarnya jadwal test aku dengannya berbeda , aku pagi hari dan dia siangnya, aku jam 08.00 Wib dan ia jam 13.00 Wib. Namun seolah Tuhan sudah membuat garisnya. Aku sampai tempat test itu jam 08.00 wib lewat 5 menit tapi bodohnya aku lupa membawa berkas utk persyaratan test. Berkas itu aku dapat dari email yang dikirim oleh perusahaan tempat aku test sebagai bukti dan harus dibawa ketika test berlangsung. Alhasil aku harus mencari warnet disekitar jalan raya gatotsubroto. Langkah kaki yang bergerak cepat seperti di ikuti jambret dan air keringat yang bercucuran aku tak perduli, aku harus mencari warnet untuk nge-print kembali surat keterangan test itu. Hampir setengah jam bingung mencari warnet di dijalan raya yang notabennya jarang ada di jalan umum kota besar, aku bertanya dengan orang-orang yang sedang berada dijalan, akhirnya aku diberitahu ada warnet diperumahan warga yang lokasinya lumayan jauh dari lokasi test. Sialnya warnet yang berhasil aku temui belum buka, terpaksa aku mengetuk pintu agak kencang bisa dibilang agak menggedor. Lama hampir 10 menit tak ada jawaban dari dalam, aku pesimis dan berfikir harus mencari tempat lain, namun tiba-tiba dari dalam rumah tersebut terdengar suara orang lagi membuka kunci pintu. Ahhh Alhamdulillah puji ku, “sebentar ya, baru buka, lagi dihidupkan dulu internetnya” celetuk mas-mas penjaga warnet tersebut. Tidak lama aku sudah mem-print surat itu, aku berlari kecil ke tempat test, sesampainya disana dengan keringat yang over dosis keluarnya mbak-mbak cantik tinggi semampai yang bertugas dimeja informasi mengatakan untuk test yang jam 8 pagi sudah dimulai dari tadi karena aku telat, disarankan untuk ikut test berikutnya jam 1 siang.

Dia belum datang saat itu, aku menunggu lama …
Sampai akhirnya ia tiba dan aku kembali bertemu dengannya. Rasa canggung ku menjadi pijakkan saat melihatnya kembali, mungkin saat itu ia melihat raut wajahku yang tegang bercampur senang seperti orang yang sedang menahan pub, mungkin. Pada saat kami ngobrol disaat itu juga ia bertemu dengan teman kampusnya, teman kampusnya itu datang dengan temannya, ternyata mereka ikut test juga.  Aku biarkan mereka berbincang-bincang dan duduk geletak di ubin depan lobby tempat test kami, aku juga duduk namun tidak terlalu dekat, aku hanya menyaksikan mereka dari belakang, aku juga tidak mau tahu apa yang mereka bicarakan. Namun aku sedikit mendengar samar-samar jika ia meminta pin temannya temannya itu. Aku hanya bisa menunduk dan rehat untuk berfikir, dalam hati mungkin ia suka dengan orang itu. Aku layu siang itu

Sambil menunggu panggilan test, perut pun terasa lapar, kami mencari makan dan untungnya ia tidak mengajak teman-temannya itu untuk ikut makan, ah sedikit senang. Kami mencari tempat makan dan ketemulah kantin, dikantin itu terdapat banyak makanan mulai dari gado-gado hingga makanan padang. Ia menjatuhkan pilihan nya ke soto ayam dan aku lebih memilih bakso malang. Saat itu ia lagi tidak enak badan, ia pilek dan kepalanya pusing, aku tidak tega melihat dia sakit, pada saat itu aku ingin bilang sudah minum obat belum atau cepat sembuh yah, namun aku tidak berani melontarkan kalimat tersebut dari mulut ini. Setelah selesai makan kami kembali ketempat test, ada rasa teramat nyaman jika aku berada dekat dengannya, rasa yang tidak mau jauh darinya, sebuah rasa yang misterius. Aku … aku tidak yakin menyebutkan apa nama dari rasa ini. Misterius

Test pun tiba, dan ia memilihkan tempat duduk untuk ku, tepat dibelakangnya. Dari belakang tubuhnya aku sanggup menatap bahunya, rambutnya hingga punggungnya, namun aku tak bisa melihat wajahnya. Didepanku ia tersiksa oleh penyakit pileknya, saat itu ruangan test sangat dingin aku tak tega melihatnya. Test selesai dan kami pun bergegas pulang, menuju lantai bawah karena tempat test kami berada dilantai atas kami berbincang-bincang kembali soal pertanyaan-pertanyaan dari soal test itu, kami tertawa dengan jawaban-jawaban yang menurut kami tidak yakin, sesampainya dilantai dasar aku memutuskan untuk shalat ashar terlebih dahulu, yang aku tangkap dari gelagatnya ia ingin menunggu aku shalat, tapi cepat-cepat aku berkata kepadanya untuk pulang duluan, kami berpisah ditempat pintu lobby gedung itu. Selesai shalat aku berjalan menuju tempat parkir motor, aku berjalan lemas tak bergairah karena takut tidak lolos interview dan tidak ketemu lagi dengannya. Sesampainya ditempat parkir mata ini seakan diarahkan oleh aliran magnetik yang aku sendiri tak tahu aliran apa ini namanya, mata ini di dorong agar melihat kearah tumpukan motor yang sedang antri keluar dan aku melihatnya dia berada dalam antrian tersebut, sebaliknya ia melihat aku sedang berjalan menuju motorku singgah. Mata kami bertemu, Aku hanya senyum melihat ia melihatku, karena jarak antara aku dan dia cukup jauh, dia seperti berkata sesuatu, aku hanya mengangguk-angguk kepala saja karena aku tak mendengarnya ia berbicara apa. Pengumuman test hari ini akan diumumkan nanti malam dan kami pun pesimis untuk lanjut tahap interview.

Malam hari tiba saatnya melihat pengumuman, apakah aku dan dia lolos ketahap berikutnya, perasaan deg-degan luar biasa, jantung mau keluar dari rongga dada. Klik aku menekan mousse dan jrenggg nama kami berdua ada di web pengumuman Alvin simorang dan Shilla framelia. Kami lolos tahap interview dan besok diharuskan hadir kembali ditempat yang sama, senang rasanya, senang bukan karena lolos tahap selanjutnya tapi karena aku akan bertemu kembali dengan alvin. Terima kasih tuhan, kami pun janjian besok untuk hadir jam 12 siang.

Esoknya, selasa siang jam 11.00 wib, hujan mengguyur kawasan kebayoran lama, terpaksa aku meneduh menunggu air langit berhenti turun. Tiba-tiba bb bergetar “dimana lu shil” alvin nge-bbm. Jangan Tanya bagaimana perasaan aku saat itu, kalian pasti bisa menebak bagaiaman rasanya, walau hanya bbm seperti itu pasti rasanya happy banget kan? Apa lagi itu orang yang .. hmm.. orang yang kita taksir. “dikebayoran lama vin, lagi neduh hujan disini, lu dimana?” ah aku tak tahu harus balas apa. “udah nyampe gua, udah reda dimari” bls dia. “yaudah gua otw, udah redaan juga disini” aku pun bergegas menggunakan jas hujan, kemeja aku lepas dan dimasuk kan kedalam tas agar tak basah, kebetulan kemejanya aku dobble-in kaos. Sepatu juga aku lepas dan dimasuk kan didalam jaket yang aku gunakan, terasa gendut perutku, aku hanya menggunakan kaos kaki selama perjalanan. Saat itu sebenarnya hujan masih cukup deras, namun karena ia sudah sampai aku cepat-cepat ingin sampai disana dan bertemu dengannya. Itu namanya … ahh aku tak mau melanjutkan kalimat tersebut.

Sebelum sampai tempat test, aku mampir terlebih dahulu di pom bensin untuk mencuci kaki dan menggunakan sepatu dan kemeja kembali, agar sampai sana terlihat sudah rapih. Setelah beres aku melanjutkan, tempat testnya berada disamping pom bensin tempat aku mencuci kaki. Sesampainya di tempat test aku menaiki escalator dan kembali aku menangkap dua bola mata sedang memperhatikanku dari lantai atas, dia sedang melihat ke arahku dan aku pun melihat ke arah dirinya, aku tersenyum ia menganggukkan kepala, mata ini kembali diarahkan oleh sebuah alirah magnetik ke arah dirinya. Canggung, itu kesan pertama saat bertemu kembali, gak bisa diam, salah tingkah, aku memang manusia aneh yang tak bisa menutupi kecanggungannya. Orang seperti ku ini wajib dijaga agar tidak punah. Namun saat itu aku sedikit mencemberutkan hati, karena apa? Karena ia diatas sedang berdua dengan temannya temannya dia yang kemarin (setau aku) yang dimintai pin bb olehnya. Mati dalam hati. Daripada mengganggu mereka aku ingin turun kebawah saja, ingin shalat dzuhur tapi aku kaget ia malah ikut aku untuk kebawah tidak menemani orang itu di atas (mungkin sekarang gebetannya) aku terkejut. Atau itu hal biasa?. Aku mencaci maki pikiranku sendiri. ia ikut ke bawah bukan untuk menunaikan shalat, ia non muslim, tapi aku bangga terhadap dirinya. Ia menunggu ku didepan lobby, ia duduk disana. Di dalam musholla aku menundukkan kepala diahadapan Allah, aku berdoa agar aku bisa bertemu terus dengannya, bisa melihat senyum manisnya yang berlsung pipi dan suaranya. Setelah selesai shalat aku duduk menghampirinya, disampingnya aku kembali merasa nyaman, berharap waktu tidak cepat habis dan pergi saat itu. Disamping kanan ku mata itu tajam menatap ku, tajam sekali, tatapan yang aku rindukan sejak pertama kali aku bertemu dengannya, tatapan penuh tanya atau mungkin tatapan keanehan, yang pasti aku suka dengan tatapan mata itu. Tak ada 30 detik ia menatapku dari samping, aku menolehkan wajahku ke wajahnya yang sedang menatapku, mataku bertemu matanya, saat bertemu ia memalingkan wajah dan tatapan mata itu, aku menikmati tatapan itu, aku biarkan tajamnya merobek jendela hati, biarkan ia merobeknya dan biar nanti aku yang akan menjahit sobekan itu sendiri, aku masih terdiam menyaksikan.

Kami kembali keatas, menunggu tahap interview, tidak ada bangku yang kosong saat itu bangku semua terisi oleh manusia-manusia yang sedang mencari kerja termasuk kami, aku dan dia berdiri bersandar ditembok bolak-balik tak jelas sampai akhirnya kami berdiri bersampingan sambil merebahkan tubuh ke dinding, kami berbicara saling berdekatan, saat itu jarak terdekat wajah kami saling menatap dan berbicara. Aku mencium aroma parfum dari tubuh dan bajunya, saat ini aku merindukan aromanya. Lama kami berdiri, akhirnya ia mendapatkan tempat duduk, aku masih berdiri. Tiba-tiba bb ku bergetar, bbm darinya “shil kebelakang aja, deket toilet”, aku juga sudah dapat tempat duduk namun jauh dari tempat ia duduk. Aku senang ia bbm seperti itu, ia perduli terhadapku, namun aku belum tahu perduli karena hanya menganggap teman atau lebih, aku ingin pernyataan yang kedua. “kemari aja shil” ia bbm kembal, “ada bangku yang kosong?” bls ku. “geletak dibelakang kosong sih” blsnya. Kembali aku bertanya, apa memang ia tak mau jauh dari ku atau karena kasihan aku duduk sendiri, aku mengira pasti karena pernyataan yang kedua. Aku menghampirinya dan aku beruntung melihat ada bangku tak bertuan didekatnya, aku pun duduk disamping kedua darinya karena disamping ia duduk sudah ada orang. Tak lama ia dipanggil terlebih dahulu untuk masuk interview, ia melangkah ke depan, mataku tak sengaja mencarinya dan pada saat itu matanya menemukan mataku yang sedang melihatnya, mata kami kembali bertemu. Dari jauh ia sedikit menganggukkan kepala seolah berkata gua masuk duluan ya, aku pun menganggukkan kepala ku sembari tersenyumm dan seolah berkata pula iyah goodluck. Namun saat itu aku melihat tatapan mata kesedihan atau syahdu berbeda dengan tatapan-tatapan sebelumnya. Ia pun memasuki ruangan interview, aku sendiri menunggu diantara orang-orang pencari kerja. Sempat-sempatnya ia bbm cumin bilang “duluan ye shil, masih antre lagi hahaha”, ini yang membuat aku merasa ada sesuatu didirinya, namun aku juga yakin kalau itu hanya sekedar bbm ke teman biasa. Bergejolak.

Hampir 1 jam namaku belum dipangil-panggil, aku khawatir dia selesai terlebih dahulu, lalu pulang dan aku sendirian. Benar saja sebelum aku masuk dia sudah keluar, "dimana shil" ia nge-bbm. Kami bertemu ia menceritakan didalam ditanyai apa saja oleh sang algojo penerima kerja. Setelah ia menceritakan ia izin utk makan siang, krn ia belum sempat makan begitupula jg dengan aku. Tp aku tdk ikut makan dgnnya krn takut namaku dipanggil. "Gua makan dulu shil, nti gua ke atas lg, gua kesini lagi". Ia turun utk makan dan aku kembali duduk menunggu panggilan, kenapa lama sekali namaku dipanggil pikirku, mungkin namaku tak komersil utk dipanggil, atau berkas cv ku terselip dan terbuang masuk ke tong sampah. Ada setengah jam aku masih menunggu, tiba2 bbm ku kembali bergetar "udh msk shil?" Isi bbmnya. "Belum, lu mau balik?" Blsku. "Gua diatas nih, lu dimana?". Ia berdiri didepan tangga eskalator,dan aku menghampirinya, Kami bertemu kembali ia sudah selesai makan, dan sial perutku lapar, aku memang blm sempet makan tadi. Kami berdiri mencari bangku yg belum diduduki oleh orang2, dan kami menemukan bangku yang berada dipaling belakang, duduk lah kami berdua saling berdampingan. Aku tak mengingat apa saja yg kami perbincangkan, yg aku tau aku gak mau jauh dari tempat duduk itu atau mungkin aku gak mau jauh dari hamba tuhan yg ada disampingku. Aku nyaman didekatnya, aku ingin bersender dibahunya sambil menunggu antrian ini. Aku terhipnotis olehnya. Tiba2 ia membisikkan ke kupingku, iyaa itu jarak terdekat wajahnya berdekatan dengan wajahku, sangat dekat! "Sebelah kiri lu yg pake baju merah,td didalem disuruh nyanyi", aku gak perduli ia membisikkan apa, yg aku tahu itu jarak terdekat aku dengannya. Tuhan jangan cepat-cepat ia selesai menjauhkan mulutnya dari telingaku. Aku ingin dekat seperti ini. Dekat sekaliii.. Jika dalam tata surya planet mars pernah mendekati bumi dengan jarak terdekatnya maka kejadian itu jarak terdekat wajahku berdekatan dengan wajahnya. "Gua tungguin lu masuk sampe jam 4 ya shil", "yaelah gpp vin,balik duluan jg gpp" "gak enak gua sama lu". Celotehnya. Aku semakin yakin jika ia perhatian dengan ku, tp aku jg yakin ia menungguku karena tidak enak hati , karena aku temannya. Disini naluri dan persepsiku kembali bertengkar. Saat itu masih jam 15.30 wib, ia menemaniku hampir setengah jam, "udh jam 4 vin, ggp balik duluan sana" aku berbicara padanya. "Iya gampanglah shil, 10 menit lagi gua tungguin deh, kayanya lu sebentar lagi dipanggil nih". Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi, aku mau nangis, aku lemas, gak perlu ia seperti itu seharusnya. Membuatku merasa ada yang aneh, atau aku yang memang berlebihan menanggapinya, Aku tak membalas, aku hanya diam, 10 menit terakhir itu kami sama2 diam. Sisa-sisa menit itupun datang "Gua balik ya shil, gak enak gua sama lu nih" , "selau aja vin, gpp makasih ya", "yaudah gua balik ya shil, nanti kabar-kabarin ajalah gimana", "yo vin,semoga sukses". Ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan aku saat itu, ada rasa sedih, krn aku berpisah dengannya, tapi aku kembali berfikir kneapa ia rela menunggu ku walau tdk sampai aku masuk. Mungkin krn ia tidak enak hati jika ia pulang duluan, aku mengompori diriku sendiri. Dari belakang punggungnya aku melihat ia turun kebawah, aku terus menyaksikannya hingga ia hilang dari penglihatanku. tak lama ia pergi namaku dipanggil "shilla framelia" .aku pun masuk siap utk interview.

Selesai aku di interview, aku dikejtukan kembali oleh bbm nya "udh kelar bos", aku tersenyum membacanya, orang ini selalu penuh tanya. "Udeh om gak lama lu balik gua dipanggil" bls ku. Siapa yg tidak senang diperhatikan oleh orang yg sebenarnya kita mempunyai rasa, namun kita tidak berani untuk memperlihatkannya. Biarkanlah rasa ini tumbuh liar sampai nanti keliarannya tdk bisa utk di jinakkan. Sangat sulit saat ini utk mendefinisikan sebuah rasa yg semakin hari semakin tumbuh liar tak terpagar. Ketika kata nyaman terbaring lemah saat berada didekatnya, pada saat itu juga rasa menunjukan jati dirinya utk berkata lihat aku.

Cerita ini masih berlanjut apakah mereka sama-sama diterima kerja? Atau meungkin diantara mereka harus ada yg diterima dan hrs ada yg tidak diterima atau mungkin mereka berdua sama-sama tdk lulus interview. Soon "40 jam"
 

 
Kamis, 31 Januari 2013 0 komentar

Terserah mau kasih judul apa

Disela makan siang aku terpojok di lantai dasar gedung ini.
dari HP butut putih ini aku hidupkan sebuah lagu karya SO7 - buat aku tersenyum.
sekali lagi entah apa yang membuat sebulan ini hidup tidak menjadi hidup.
bodohnya aku menanyakan itu kepada diriku sendiri,
ini bukan hanya sekedar tulisan keyboard , namun perasaan kegundahan.
aku bertanya kepada bayanganku di air gupakan bekas hujan sore itu, apa yang membuat diri ini seakan diterjang rindu teramat oleh makhluk ciptaan nya.

Kembali aku bertemu dengan sang jumat, namun bukan di hari jumat seperti pertemuan sebelumnya, aku bertemu kembali olehnya di hari sabtu.
dimana hari favorit muda-mudi, karena dihari itu banyak sepasang kekasih memadu cinta. aku hanya memadu angan-angan. miris

Di hari itu  aku bertemu dengannya
sesosok makhluk yang satu bulan ini membuat diriku seperti kehilangan nyawa untuk menerjang kejamnya hidup. ah klasik
diri ini sontak terdiam, makhluk itu membuat aku menjadi orang yang berkhayal.
sabtu itu aku tak terlalu bersemangat untuk bertemu dengannya, seakan aku akan bertemu oleh malaikat maut yang nyatanya ia adalah makhluk buas yang mempunyai pesona,
tergerus dipipi kirinya sebuah lubang kecil, iya itu lesung pipinya yang membuat ku tidak bosan untuk memandanginya.

Kedua bola mata ini sudah berani cukup lama untuk memperhatikan wajah tengilnya,
namun mata ini dan matanya tidak sempat menatap lama, kami saling membuang tatapan itu ketika bola mata ini beradu, atau dia yang membuangnnya, aku yang mencuri tatapannya.
obrolan pada saat itu membuat ku menekuk wajah ini 10 kali lipat, obrolan minta di carikan pasangan hidup , jujur aku terhempas dengan obrolan itu, aku masuk ke lubang waktu kesiasiaan.
hati ini berbisik kepada naluri "sudah kamu salah, bukan dia orang yang kamu cari, selama ini persepsi dan spekulasi mu itu seperti seorang kakek yang ingin mengendarai pesawat".
naluri ku membalas dan membisikan ke hati "memang selama ini aku hanya mempunyai persepsi dan spekulasi yang berlebihan yang membuat ku jadi seperti ini, aku gak blh seperti ini terus kan?"
hati membalasnya "aku gak bisa menjawabnya, hanya dia yang bs menjawab pertanyaan itu"
naluri : "jika ia hanya diam dan aku jg diam, bagaimana?"
hati menjawab " mati saja kau!!"

Saya kangen makan ditempat nasi uduk itu lagi, kangen sambel merahnya, kangen ayamnya yg empuk.
saya juga rindu 2 circle k itu.
maaf saya bohong , saya rindu dengan orang yang pergi dengan saya saat itu.
menyayat jika di ingat-ingat terus karena hanya saya yang mengingatnya.
saya rindu suaranya, suara yang agak serak
begitupun dengan senyumannya, senyuman yang membuat pipi kirinya tergerus kempot ke dalam, dan juga lirikan matanya yg mengandung beribu-ribu pertanyaan

Diri ini, kepala seakan mau meledak bak bom hirosima yg menghancurkan negara jepang, namun bisa aku tahan. tak kan pernah aku biarkan untuk meluap karena aku takut jika nanti akan berakibat kurang senang utk nya, dan saat ini aku merasakan engkau mengapa. maaf jika selama ini aku salah mengartikannya, salah dengan sikap dan perilaku yg engkau lakukan dihadapan ku. aku menyesal telah membuat karya pemikiran sendiri. hei tenang, aku mencoba untuk terbang ke dunia nyata bersama segerombolan burung elang agar aku merasa sadar dan dilindunginya.
jika nanti kamu berdoa, aku titip salam untuk tuhanmu, bilang , maaf aku udah lancang suka dengan umatnya.
















Sabtu, 19 Januari 2013 0 komentar

Bangku itu kosong

jumat, 18 januari 2013 dikala senja sore

















Bangku di depan ku kosong
jumat 11 januari 2013 yang lalu
aku ketempat ini sendiri
tempat kita berbincang  berdua
aku kangen dia

Bangku depan ku kosong
aku tak melihatnya kembali
tak meraba kecerdasan nya saat ia berbicara
aku merindunya

Bangku itu masih kosong
aku hanya merasakan bekas bayangannya

Di tempat ini
bangku itu masih kosong

Tanganku gemetar, dadaku menahan,
mataku mengawang, ditempat ini
bangku itu kosong

Anak kecil itu tidak ada
anak kecil yang seolah mempunyai penglihatan

aku ingin bertemu anak kecil itu kembali
aku ingin menanyakan apa yang akan ia lihat selanjutnya
apa dia akan hilang atau memang kita akan bersatu

Hanya tidur yang mampu menghilangkan jejaknya
dari kepala ini.
dan ..  bangku itu masih kosong.
setiap hari jumat datang, aku akan kesini sehabis pulang kerja, aku akan menari bersama imajinasiku.

Jumat, 18 Januari 2013 0 komentar

The EnD

Pencipta rasa ini, izinkan aku kembali menarikan jari ku
aku tersesat saat ini , aku kehilangan mozaik gambar-gambar ketidakpastian itu
aku terhempas di bilas petir kejutan.

Pagi ini aku berjalan di tengah hujan yang mungkin air nya mencapai jutaan kubik bahkan milyaran.
di tengah derasnya hujan, aku terpatung , apa yang telah aku persepsikan kurang lebih tiga minggu ini ternyata hanya kebodohan kecil yang aku buat menjadi kawasan banjir ketololan.

air yang turun mengenai tubuh ini tak ku rasakan
dngin nya pagi ini tak kurasa dingin 
jari-jari tangan ku mengkerut sedih
lagi-lagi aku tak perduli
yang aku rasakan di kebisingan suara hujan hanya klakson motor, mobil, dan peluitan polisi adalah penyesalan bercampur keinginan.

penyesalan mengapa aku mempunyai secuil cahaya?
padahal jika diperhatikan seksama itu bukan cahaya
namun kunang-kunang kebodohan yang semakin lama semakin terbang menjauh menuju lembah keterpuruk kan
aku mulai tersadar.

malam hari nya sebelum aku berada ditengah hujan ini, aku seakan mempunyai harapan, harapan jika ia memang mempunyai rasa yang sama, rasa yang bertanya, sebuah tanya yang harus saling dijawab oleh kedua manusia ini.
manusia yang berbeda namun satu tujuan yaitu apakah kamu seperti saya.
aku iseng bertanya padanya malam itu, dari rumah pacarmu yah?
lama tak ada jawaban, heningnya malam membuat malam ini lebih hening dari lubang kubur.
aku sempat memejamkan mata dan merasa ia tidak akan menjawabnya. dan aku menyesal telah bertanya seperti seorang anak TK yang bertanya ke gurunya "bu guru mengapa ayam bertelur". susah utk menjawab agar anak itu memahami.

masih diantara tidur dan hidup, aku sudah tidak peduli lagi dengan jawabannya.
aku hanya ingin tidur untuk sejenak rehat dari sebuah raksasa tanda tanya, dan aku berharap jika ku buka mata sipit ini, aku sudah tidak memikirkan nasrani kembali, jumat yang akan hilang dari kalender hidupku, si baik hati yang memberikan roti dan susu ke anak kecil yang jadi tukang parkir atau si penyuka sambel merah.
amun hampir satu jam setengah aku tertidur, aku tergopoh bangun saat led bbm memerah, pusing bukan kepalang.
ia membalasnya namun tak menjawab pertanyaan itu, ada apa dengannya, mengapa ia tak ingin menjawab pertanyaan sepele itu, atau mungkin pertanyaanku hanya sampah baginya.

sejak aku mencari tahu bak detektif kartun jepang semua mengenai dirinya, aku seakan kehilangan jejaknya.
kini aku tak sepercaya diri seperti awal bertemu dan menghabiskn jam dengannya.
aku sekarang bertransformasi menjadi kurcaci yang malu pada saat mendatangi pesta istana.
aku telah mengetahui siapa nasrani itu, aku benar-benar salah menilainya.

aku runtuh, namun aku kuat
di suatu rungan kantor lantai 4 di terangi sinar matahari sore, aku berjanji akan membunuh rasa ini dan akan menghanyutkan nya direlung kebodohan.
jumat ini suasana langit cerah, seperti jumat lalu kita habiskan jam bersama.
yang aku bayangkan  kita akan bersama, namun yang ada aku terbelanga, aku akan menghilang.
terima kasih hari jumat, hari dimana kita selalu bertemu.










Rabu, 16 Januari 2013 0 komentar

Jumat

aku  tak tahu harus bagaimana
disaat aku ingin mundur, disaat itu ia bergerak
aku sudah tak ingin lagi untuk berspekulasi, lelah.
aku sudah ingin menguncinya di tidak kemungkin hati.

disaat pertama kali bertatapan, hanya berharap akan bertemu kembali dalam suatu ruangan kisah.
namun pertemuan kedua ku kembali terjadi
anehnya di hari jumat
tepat tiga minggu yang lalu awal aku kenal dengannya dihari jumat juga.
jumat itu aku merasa hidup, aku merasa nyaman disampinya
aku bersyukur jumat itu aku lebih mengenal dirinya.
dan akupun dikenalkan dengan si sambel merah, sambel favoritnya ditempat makan tersebut.

diantara air hujan yang turun malam ini
diantara itu juga terjatuh sebuah kerinduan yang teramat dalam
kerinduan yang seolah memanipulasi kehidupan nyataku.
seolah aku tersihir oleh raganya, kelembutan hatinya, knp tidak?
disaat banyak orang yang tidak peduli dengan sekelilingnya
ia menyisihkan uangnya untuk seorang anak kecil
anak kecil itu berprofesi sebagai juru parkir di tempat yang kami sambangi.
ia membelikannya susu dan roti untuk penjaga kendaraan tersebut
hatiku melebur menjadi kebanggan kepada dirinya,
wajahku tak tersenyum namun hatiku tertawa lebar melihat kebaikan hatinya

jujur aku terkagum melihat aksinya
pertemuan kedua itu masih sama untuk diriku
tersipu malu untuk melihat wajahnya
tak berani untuk mengumpulkan senyawa untuk dihabiskan melihat wajahnya.
setiap hari kerinduan ku menumpuk
teramat pedih jika ku mengingat jumat itu
pedih bukan karena apa, namun karena aku melampaui batas keinginanku.
aku bahagia jumat itu, kita berbicara banyak dihadapan sebuah meja kotak dan beberapa batang rokok.

jumat apa perasaanmu sama dengan ku?
kembali lagi, aku terhempas tak bisa menjawabnya.
aku seperti mendapatkan jawaban jika ku berhadapan dengannya
jawaban yang selama ini aku ingin ketahui.
namun semua itu kandas dikala aku mengirimkan sebuah percakapan di contact bbm.
balasanmu dingin beda pada saat kita saling berbicara secara langsung.

jumat, yang aku tahu radar ini benar, berikan juga radarmu agar aku tahu siapa kamu.
jumat aku mau memulainya, namun aku juga siap berhenti jika kamu memang tak seperti yang dikatakan indera firasatku.
jumat kamu tahu? hanya tidur yang mampu menghapus mu dari sel otak ketidakwarasan ini.
ketika aku bangun dari tidur nanti ketidakwarasan ku kembali berlanjut.
di paha dan dada ayam yang kita makan saat itu terselip sepotong rindu terbesit.

dan dihari ulang tahun ku saat ini, izinkanlah aku menulis kesemerawutan hati, jiwa dan pikiranku untuk mu jumat agung...
 
;